tentang beta:

Foto saya
Denpasar, Bali, Indonesia
anak bungsu dari ayah (Cornelis Taga Doko) dan ibu (Jublina Huna Koreh), keturunan Sabu asli.. I AM ME!

Rabu, 08 Juni 2011

TERLALU LAMA



puisi estafet karya Ephie Taga dan Maria Pankratia
untuk MuDAers NTT Menulis / #Komunitas Daun Lontar



ombak datang, ombak pergi
begitu juga alun angin
dari anak panah pagi
yang sekejap berpagut dingin

buih putih-putih
menghantam sepoi-sepoi
seiring sapuan angin basah
satu pada kepingan hari
yang sebentar lagi dimulai

sepasang mata, tajam lainnya layu
tanpa kata; koma maupun titik
mencari arah sang bayu
dan menaruh kembali petikan hasrat pada putik
seperti bunga yang haus rayu

kau ingin akhir? Lakukanlah...

tapi hari masih dini...
pagi kental
dengan cahaya matahari terik
pekat kopi sedikit membuat mual
tetap terjaga dan menjadikannya menarik

pagi dan hati.goyah.layaknya pohon tua yang melapuk
termakan air yang senantiasa menyuburkan
tanah bukan tempatnya lagi berpijak
siap menjadi puing puing.lima tahun sia sia

roh sang waktu mengoloknya keras
memberikan bermacam alasan waras
menyentuh kebimbangan dengan leluasa
resah, risau, galau, gundah, kecewa

dahulu,waktu membuatnya bertahan
entah kini
semua rasa bermain main dengan waktu
tak bertujuan.hilang

tak tentu arah
tak juga jelas asa
turuti kemana langkah
tentang lelah dan letih dia merelakannya sejak lama

sejak lama.itu intinya
ia bertahan demi lama
yang terurai kedalam bersama rasa
sayangnya hambar, terlebih hati lain hadir
menambah pahit perjalanan
ia tak lagi sanggup
wanita diujung asa.tanpa arah.mgkn itu aku,pikirnya.

terus menerus
digerus....
sampai nanti
tak tentu tak terurus
kurus,tirus, lalu mampus

pagi tak lagi baru
ia menepis ragu
aku berhenti.itu janjinya.




>>>08062011--sesetandanjimbaran<<<

Senin, 06 Juni 2011

akar hidup

awal dimulai hidup
terserap lewat peluh
kami lahir; kami tumbuh
hidup dari akar hidup kami

ketika....
teretas akarakar baru
akar menua,
melemah...

hidup masih ada
nafas masih beradu
akar kami perlahan menyusut
tulang tua, masuk ketanah
kembali pada menyerah pada bumi
ia, akar kami...

*akar yang tidak tercabut, malah semakin masuk kedalam demi menghidupi anak cucunya..*




>>>ephie06062011dps<<<

MATA

Benci sekali melihat seringai diwajahnya. Ia tak pernah hangat padaku, seperti ayah-ayah lainnya. Ayah, begitu aku harus memanggilnya. Ayah, yang aku tau hanya hadir dalam sosoknya saja. Entah kapan ia hadir, tapi seingatku aku masih berumur 9 tahun kala itu. Ibu hanya mengajarkanku untuk memanggilnya seperti itu.
Namaku intan permatawati. Umurku 14 tahun. Aku meminta dipanggil “Mata”, boleh kan?? Beberapa saat sejak kehadirannya, terlebih sejak kehadiran adik, aku selalu ingin menjadi mata..yang bisa awas terhadap setiap gerak geriknya. Bisa menjadi mata bagi ibu dan adik. Sayangnya aku tak mampu menjadi mata bagi diriku sendiri.
Kadang ingin kucongkel mataku sendiri. Kemudian mulai mengomel dan mencaci maki diri sendiri. “bodoh, tolol!! kenapa kau biarkan ini?” atau terkadang menghadap pada cermin, mulai mengamati setiap jengkal tubuh dan mulai merasa jijik sendiri. “perempuan anj*ing!!! Tidak lelah juga kau rupanya!” Aku tau siapa yang aku maki, aku dan aku sendiri.
....Dimana kau? Dimana kau? Kadang aku mencari diriku sendiri. Kadang aku berteriak meminta mataku untuk tetap awas. demi orangorang terkasih....
Beberapa bulan aku akan merasa aman. Sangat nyaman. Ketika ayah tak dirumah. Sepertinya gampang sekali memunculkan tawa riang dan canda kala itu. Ibu akan selalu menertawai gerakgerik kami yang menggelikan. Tidak seperti kala ayah disampingnya. Ia akan menjadi orang yang sangat berbeda. Seperti saat itu. Hanya duduk diam setelah mengerjakan semua tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Kemudian tertunduk. Hanya melirik kami sesekali. Ia seperti hidup dengan dua kepribadian.
                          ......................................................................................
Jujur saja, kebencian ini awalnya muncul bukan karena seringainya. Seperti juga namaku. Awalnya aku sangat senang dipanggil “intan”. Kata guruku, aku kaya. Bayangkan saja, dalam nama saja sudah ada intan dan permata, bagaimana dalam kehidupan nyata?...bagaimana??? tidak ada, tentu saja tidak ada...jangankan intan permata, uang 50ribu saja sampai seumur begini baru sekali kurasakan dalam genggaman tanganku, ketika ibu menyuruhku membayarkan utangnya pada ibu lurah, ia malu untuk berhadapan langsung karna sudah berbulanbulan ia mencoba menghindar. Jadi lembaran itu hanya singgah sementara lalu berpindah ke tangan orang lain. Tidak sampai 10 menit malah.
Suatu malam, diharihari pertama aku memanggilnya ayah, tanpa sengaja aku mendengar mereka saling berteriak, memaki satu dengan yang lain. Malam itu juga pertama kalinya aku mengetahui bahwa segala macam binatang bisa keluar dari mulut seorang lakilaki. Ibu sempat berteriak “berhenti, aku tidak mau intan mendengarnya...”, tapi apa mau dikata, rumah sekecil ini hanya dengan dinding yang mungkin siap runtuh kalau memang niat menubrukkan diri, mana mungkin tidak terdengar. Ketika itu ibu sedang hamil tua. Aku tidak pernah tau rasanya, aku hanya merasa bahwa sebentar lagi akan ada suara bayi, yang paling tidak bisa mengimbangi suara ributribut ini. Setidaknya bukan hanya ributribut ini saja yang bisa aku dengar...bosan!!
Diharihari pertama itu juga pertama kali aku melihat bayangan ayah memegang pisau dengan kalapnya. Ia berlari menuju ibu seolaholah ingin membunuhnya. Ibu hanya terdiam. Bu, mengapa lemah sekali?? Mataku panas...mataku mulai tergenang...kenapa orang seperti ini yang harus hadir dirumah ini? Kalau bisa memilih, aku lebih bahagia tanpa ayah, seperti tahuntahun sebelumnya. Meski harus mendengar omongan miring tentang ibu dan tentu saja berimbas padaku, aku lebih bahagia kala itu. Ibu tidak selemah ini. Sekejap aku berlari menahan tangan ayah. Ini tak boleh, ini tak boleh...hanya itu yang ada di otakku. Aku tak merasa takut padanya, sampai sekarangpun masih begitu.
Sehari setelahnya ayah mendatangi aku, sepertinya ia tau benih keberanian yang ada dalamku. Setengah berbisik ia mengancamku. “kau akan lebih menderita jika berani melawanku”. Seringai pertamanya terlihat. Ia terlihat seperti seekor srigala yang siap memakan anaknya sendiri. Aaahhhh tidak, aku tidak sedarah dengannya.
Sejak itu aku berjanji menjadi mata. Bagi ibu dan adikku. Mataku harus tetap mengawasinya.
                                ..............................................................................................
Kehadiran adik tidak terlalu membawa perubahan. Malah aku merasa masingmasing kami menjadi dua kepribadian yang berbeda. Ketika ayah ada dan ketika ia pergi. Pekerjaannya sebagai supir truk pada sebuah perusahaan plastik mengharuskan ia untuk pergi setidaknya selama seminggu dan bisa bersenangsenang selama 2 hari. 2 hari kesenangannya menjadi pesakitan kami.
Malam kemarin, seperti biasa, ia datang tanpa jadwal pastinya itu. Ributribut yang aku takutkan sama skali tidak terjadi. Tidak satupun suara terdengar. Aku bisa tidur dengan tenang..
                                .................................................................................................
Sore pertama kedatangan ayah, di bulan juni, setahun lalu...
Ia tenang..kami biasabiasa saja. Seperti yang sudahsudah, ia mengoceh tentang pekerjaannya, sepanjang perjalanannya, sepanjang ia duduk di belakang kemudinya. Aku teruskan bacaanku, hanya ibu yang betah mendengarnya.
Malam menjelang, dan trima kasih Tuhan tidak menghujani hariku dengan teriakanteriakan tak bergunanya.
...................
Malam ini aku yang berteriak, ibu tak mendengarnya. Ayah menutup mulutku dengan tangannya. Ia leluasa melakukannya, ditolong gelap kamarku. Hitam itu hanya menolongku sedikit, memperlihatkan seringai ayah. Sejak saat itu aku membencinya.
Panggil aku Mata. Karna meski malam ini mataku tak menolongku, aku akan tetap menjadi Mata.



>>>ephie29052011dps<<< #daunlontar

"malulah sedikit"

biarkan saya berangan....
berangan tentang pemimpin yang berkualitas...
yang tidak sekedar berkata "...saya menghimbau...."
berangan tentang anggota dpr mpr yang tidak hanya sekedar punya malu,
tapi juga punya hati,
punya mata,
punya telinga,
punya rasa,
tidak hanya memakan duit rakyat..
mengatasnamakan pemerintah untuk halalnya ide busuk
yang mungkin telah terencana bahkan sebelum terpilih...


baiklah, salah saya memilih anda..
salah saya menusukkan paku pada wajah anda...
andai tahu,
kalau bisa,
bahkan andai mungkin,
bukan paku yang ingin saya pakai,
samurai mungkin...
sembari menuliskan,
"kalau tidak mampu, turun saja...malulah sedikiit!!!"







>>>ephie030511dps<<<
#menurut saya tentang mereka, para penikmat tahta...#

R.E.S.A.H

..tak ingin munafik..
itu yg aku rasa
dan jujur saja
..aku memang sedang menikmati hadirmu
dalam pikirku..

..........????
aku merasa harus mematahkan setiap asa
sepertimu yg saat ini, mungkin,
sedang mengubur rasa..
aku merasa, yang paling bebas saat ini
hanyalah pikiranku saja..
...pikiran, yg sejujur-jujurnya, sedang terisi olehmu...


>>>buatmu dariku<<<
(ephie130710walkot)

rasa yang naif, rasa yang tak seharusnya hadir yang kemudian menjadi kenikmatan tersendiri untuk sekedar merasa mu disisi ku...meski sempat berharap, asa itu sedang kukubur dalam dalam, bukan karna kamu, bukan karna aku tapi karna kita yang terasa janggal untuk dipadukan..
...........??? #entah...........???


>>>diedit jam 07:52<<<
ketika pagi pun tak mampu menghapusmu..
hmmm tulisan tentangmu tak akan ada habisnya...
aku harus istirahat^.-

menelisik hari

masih sempat kutelisik hari, kala malam menggugurkan temaramnya, dimana yang tergambar hanyalah sebuah senyum yang sepi dalam diam dan beku dirautmu..sempat pula kususuri pendaman sedih yang terperih, diantara tangisan orangorang tersayang..Dia terlalu baik untuk semua yang terlewati..

aku jujur...aku syukur....yang membuncah diantara alunan nafas dan rasa..aku tak layak menangis (lagi...)..pun meratap..terutama ketika harum bunga mengantarkan doa dan rindu lewat batu biru diatasmu..

tahun kedua menjelang natal ketiga..tanpa tangisan..pula ratapan..hanya senyum untukmu
(kepergianmu tak sedikitpun melunturkan segenap yang pernah ada..)




>>>ephie101209koe<<<

elegi kepergian ibu: antara 10 dan 21

cukup untuknya merasa bahagiamu
cukup bagi seorang ibu tersenyum
disaat ia tau kehidupan lain menjelang
baginya...mungkin...

antara 10 dan 21
singkat..sebelas hari yang pendek...
hanya sekejap bahagia ganti duka
berharap sesingkat itulah hari sedihmu

hanya sebelas hari...
ia sedang melanjutkan senyumnya
di atas sana








teruntuk: jiwa indah yang telah terbang menuju tempat sucinya...




>>>ephie211009koe<<<